Search Engine Optimization and SEO Tools
Jumat, 12 Desember 2008
Kamis, 11 Desember 2008
MENGALIR SEPERTI AIR.........
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan
hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.
Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit.
Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.
Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil
itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi
dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau
minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang."
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia
datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang
satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak
pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1
malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam
masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Ini adlaah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil
makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia
mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Sekali
lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis!
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir
kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah
pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa
aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku
salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya
pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di
sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai
terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan
kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya
air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau
hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau
akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju
ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya,
ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!
hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.
Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."
Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu
sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit.
Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap
kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa
disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita
menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut
mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.
Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil
itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi
dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin
sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin
hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau
minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan
tenang."
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia
datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang
satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan
senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak
pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1
malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam
masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran
Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.
Ini adlaah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil
makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia
mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Sekali
lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis!
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.
Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan
pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih
tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir
kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah
pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa
aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku
salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya
pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung
berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir,
ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di
sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai
terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di
beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,
"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan
kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua.
Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi
sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana
dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru
langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya
air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau
hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau
akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu,
kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.
Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju
ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke
rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih
mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya,
ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!
Follow Your Dream
Jack Canfield, Chicken Soup for the Soul
I have a friend named Monty Roberts who owns a horse ranch in San Ysidro. He has let me use his house to put on fund-raising events to raise money for youth at risk programs.
The last time I was there he introduced me by saying, "I want to tell you why I let Jack use my house. It all goes back to a story about a young man who was the son of an itinerant horse trainer who would go from stable to stable, race track to race track, farm to farm and ranch to ranch, training horses. As a result, the boy's high school career was continually interrupted. When he was a senior, he was asked to write a paper about what he wanted to be and do when he grew up.
"That night he wrote a seven-page paper describing his goal of someday owning a horse ranch. He wrote about his dream in great detail and he even drew a diagram of a 200- acre ranch, showing the location of all the buildings, the stables and the track. Then he drew a detailed floor plan for a 4,000-square-foot house that would sit on a 200-acre dream ranch.
"He put a great deal of his heart into the project and the next day he handed it in to his teacher. Two days later he received his paper back. On the front page was a large red F with a note that read, 'See me after class.'
"The boy with the dream went to see the teacher after class and asked, 'Why did I receive an F?'
"The teacher said, 'This is an unrealistic dream for a young boy like you. You have no money. You come from an itinerant family. You have no resources. Owning a horse ranch requires a lot of money. You have to buy the land. You have to pay for the original breeding stock and later you'll have to pay large stud fees. There's no way you could ever do it.' Then the teacher added, 'If you will rewrite this paper with a more realistic goal, I will reconsider your grade.'
"The boy went home and thought about it long and hard. He asked his father what he should do. His father said, 'Look, son, you have to make up your own mind on this. However, I think it is a very important decision for you.'
"Finally, after sitting with it for a week, the boy turned in the same paper, making no changes at all. He stated, 'You can keep the F and I'll keep my dream.'"
Monty then turned to the assembled group and said, "I tell you this story because you are sitting in my 4,000- square-foot house in the middle of my 200-acre horse ranch. I still have that school paper framed over the fireplace." He added, "The best part of the story is that two summers ago that same schoolteacher brought 30 kids to camp out on my ranch for a week." When the teacher was leaving, he said, 'Look, Monty, I can tell you this now. When I was your teacher, I was something of a dream stealer. During those years I stole a lot of kids' dreams. Fortunately you had enough gumption not to give up on yours.'"
Don't let anyone steal your dreams. Follow your heart, no matter what.
I have a friend named Monty Roberts who owns a horse ranch in San Ysidro. He has let me use his house to put on fund-raising events to raise money for youth at risk programs.
The last time I was there he introduced me by saying, "I want to tell you why I let Jack use my house. It all goes back to a story about a young man who was the son of an itinerant horse trainer who would go from stable to stable, race track to race track, farm to farm and ranch to ranch, training horses. As a result, the boy's high school career was continually interrupted. When he was a senior, he was asked to write a paper about what he wanted to be and do when he grew up.
"That night he wrote a seven-page paper describing his goal of someday owning a horse ranch. He wrote about his dream in great detail and he even drew a diagram of a 200- acre ranch, showing the location of all the buildings, the stables and the track. Then he drew a detailed floor plan for a 4,000-square-foot house that would sit on a 200-acre dream ranch.
"He put a great deal of his heart into the project and the next day he handed it in to his teacher. Two days later he received his paper back. On the front page was a large red F with a note that read, 'See me after class.'
"The boy with the dream went to see the teacher after class and asked, 'Why did I receive an F?'
"The teacher said, 'This is an unrealistic dream for a young boy like you. You have no money. You come from an itinerant family. You have no resources. Owning a horse ranch requires a lot of money. You have to buy the land. You have to pay for the original breeding stock and later you'll have to pay large stud fees. There's no way you could ever do it.' Then the teacher added, 'If you will rewrite this paper with a more realistic goal, I will reconsider your grade.'
"The boy went home and thought about it long and hard. He asked his father what he should do. His father said, 'Look, son, you have to make up your own mind on this. However, I think it is a very important decision for you.'
"Finally, after sitting with it for a week, the boy turned in the same paper, making no changes at all. He stated, 'You can keep the F and I'll keep my dream.'"
Monty then turned to the assembled group and said, "I tell you this story because you are sitting in my 4,000- square-foot house in the middle of my 200-acre horse ranch. I still have that school paper framed over the fireplace." He added, "The best part of the story is that two summers ago that same schoolteacher brought 30 kids to camp out on my ranch for a week." When the teacher was leaving, he said, 'Look, Monty, I can tell you this now. When I was your teacher, I was something of a dream stealer. During those years I stole a lot of kids' dreams. Fortunately you had enough gumption not to give up on yours.'"
Don't let anyone steal your dreams. Follow your heart, no matter what.
TATTO GAMBAR SINGA
Suatu ketika ada seorang lelaki yang menginginkan tatto gambar singa di
punggungnya. Ia lalu pergi ke tukang tatto yang paling hebat, dan
mengemukakan maksudnya. Ia lalu memilih sebuah gambar singa yang tampak
sangat gagah.
Kemudian tukang tatto itu mulai bekerja. Tetapi segera setelah merasakan
beberapa tusukan jarum tatto, lelaki itu mengerang kesakitan, "Engkau mau
membunuhku?! Bagian mana yang sedang kau gambar?"
"Aku baru mengerjakan bagian ekornya," jawab tukang tatto itu.
"Kalau begitu, hapus saja ekornya. Biarlah gambar singa itu tanpa ekor,"
teriak lelaki itu.
Kemudian tukang tatto itu bekerja lagi. Dan lagi-lagi si lelaki itu tak
tahan merasakan sakitnya tusukan jarum. Ia lalu menjerit, "Wadow, sakit
sekali. Bagian mana yang sedang kau gambar kali ini?"
"Kali ini," jawab tukang tatto itu, "adalah bagian telinga singa."
"Tinggalkan saja bagian itu. Biarkan gambar singaku tanpa telinga," katanya sambil
terengah-engah.
Maka, tukang tatto itu mencoba lagi dengan hati-hati. Tetapi segera saja,
setelah jarum menusuk kulitnya, lelaki itu menggeliat lagi. "Sekarang
katakan, bagian mana yang sedang buat?"
"Ini adalah perut singa," kata tukang tatto itu dengan putus asa.
"Aku tak mau singa dengan perut!" teriak lelaki itu.
Dengan perasaan jengkel tukang tatto itu berdiri sebentar, lalu membuang
jarum dan berteriak, "Seekor singa tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa perut?
Siapa yang bisa menggambar singa seperti itu? Bahkan Tuhan pun tidak!"
Kita takkan pernah jadi singa, si raja rimba, bila takut pada panasnya gurun pasir.
Kita takkan pernah jadi elang, si raja langit, bila gentar pada gamangnya ketinggian.
Maka kita pun takkan menjadi apa-apa bila takut pada apa-apa.
(Idries Shah, The Way of Sufi)
punggungnya. Ia lalu pergi ke tukang tatto yang paling hebat, dan
mengemukakan maksudnya. Ia lalu memilih sebuah gambar singa yang tampak
sangat gagah.
Kemudian tukang tatto itu mulai bekerja. Tetapi segera setelah merasakan
beberapa tusukan jarum tatto, lelaki itu mengerang kesakitan, "Engkau mau
membunuhku?! Bagian mana yang sedang kau gambar?"
"Aku baru mengerjakan bagian ekornya," jawab tukang tatto itu.
"Kalau begitu, hapus saja ekornya. Biarlah gambar singa itu tanpa ekor,"
teriak lelaki itu.
Kemudian tukang tatto itu bekerja lagi. Dan lagi-lagi si lelaki itu tak
tahan merasakan sakitnya tusukan jarum. Ia lalu menjerit, "Wadow, sakit
sekali. Bagian mana yang sedang kau gambar kali ini?"
"Kali ini," jawab tukang tatto itu, "adalah bagian telinga singa."
"Tinggalkan saja bagian itu. Biarkan gambar singaku tanpa telinga," katanya sambil
terengah-engah.
Maka, tukang tatto itu mencoba lagi dengan hati-hati. Tetapi segera saja,
setelah jarum menusuk kulitnya, lelaki itu menggeliat lagi. "Sekarang
katakan, bagian mana yang sedang buat?"
"Ini adalah perut singa," kata tukang tatto itu dengan putus asa.
"Aku tak mau singa dengan perut!" teriak lelaki itu.
Dengan perasaan jengkel tukang tatto itu berdiri sebentar, lalu membuang
jarum dan berteriak, "Seekor singa tanpa ekor, tanpa kepala, tanpa perut?
Siapa yang bisa menggambar singa seperti itu? Bahkan Tuhan pun tidak!"
Kita takkan pernah jadi singa, si raja rimba, bila takut pada panasnya gurun pasir.
Kita takkan pernah jadi elang, si raja langit, bila gentar pada gamangnya ketinggian.
Maka kita pun takkan menjadi apa-apa bila takut pada apa-apa.
(Idries Shah, The Way of Sufi)
Saya Bersamamu Sayang
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan.
Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anak
itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut
berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat
sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke
kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya
dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena
kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal
tersebut.
Anak itu melihat botol itu dan dengan riang
memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat
tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat
tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang
dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri
segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak
tidak tertolong. sang istri ngeri membayangkan
bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat
anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada
istrinya dan mengucapkan 3 kata.
Scroll down to read....
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG"
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka
adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal,
tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya
mencari-cari kesalahan pada sang istri. lagipula
seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan
menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan
terjadi.
Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga
kehilangan anak semata wayangnya. Apa yg si istri
perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami
dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara
pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih
sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan
ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya
banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang
waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain atau
siapa yg salah dalam sebuah hubungan atau dalam
pekerjaan atau dengan org yg kita kenal. hal ini
akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam
hubungan antar manusia.
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan
ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya
banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anak
itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut
berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat
sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke
kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya
dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena
kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal
tersebut.
Anak itu melihat botol itu dan dengan riang
memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat
tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat
tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang
dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri
segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak
tidak tertolong. sang istri ngeri membayangkan
bagaimana dia harus menghadapi suaminya.
Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat
anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada
istrinya dan mengucapkan 3 kata.
Scroll down to read....
Sang Suami hanya mengatakan "SAYA BERSAMAMU SAYANG"
Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka
adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal,
tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya
mencari-cari kesalahan pada sang istri. lagipula
seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan
menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan
terjadi.
Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga
kehilangan anak semata wayangnya. Apa yg si istri
perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami
dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.
Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara
pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih
sedikit permasalahan di dunia ini.
"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan
ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya
banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
MORAL CERITA
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang
waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain atau
siapa yg salah dalam sebuah hubungan atau dalam
pekerjaan atau dengan org yg kita kenal. hal ini
akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam
hubungan antar manusia.
Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan
ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya
banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.
Pizza Hut
Pada tahun 1958, Frank & Dan Carney memulai usaha menjajakan pizza dari toko milik keluarganya. Sasaran mereka saat itu adalah memperoleh uang guna membayar biaya sekolah mereka. Sembilan belas tahun kemudian Frank Carney menjual 3.100 outlet “Pizza Hut” senilai USD 300 juta.
Carney sering memberikan nasehat yang kurang lazim kepada mereka yang baru memulai usaha, kira-kira begini:”Saya pernah menjalani kira-kira limapuluh jenis usaha yang berbeda-beda dan hanya limabelas diantaranya yang tergolong sukses. Itu artinya, rata-rata keberhasilan saya adalah tigapuluh persen”
Inti yang ingin disampaikan oleh Frank adalah:”Anda perlu terus menerus mengayunkan pukulan (baseball) jika ingin berhasil memukul dan bahkan lebih penting lagi adalah melangkah mundur ketempat semula setelah pukulan Anda meleset.
Carney mengatakan bahwa Pizza Hut sukses karena ia selalu belajar dari kekeliruan-kekeliruannya. Misalnya upaya ekspansi di Oklahoma City mengalami kegagalan, namun kemudian membuatnya menyadari betapa pentingnya faktor lokasi dan dekorasi. Ia sungguh-sungguh belajar dari setiap kesalahannya. Ketika penjualannya di New York merosot tajam, muncul gagasan inovatif memasarkan pizza tebal yang agak keras di bagian luarnya dan ternyata sukses luar biasa. Ketika toko-toko pizza lainnya mulai menggerogoti pangsa pasarnya, Frank menanggapinya dengan memperkenalkan menu baru “Pizza ala Chicago” dan sukses pula. Faktanya Carney sering gagal, namun dalam setiap kegagalan ia mampu mengubahnya menjadi keberhasilan.
Kegagalan adalah pengalaman yang pernah kita semua mengalaminya. Pertanyaannya adalah: “Apakah Anda akan membiarkan kegagalan itu menjatuhkan Anda atau sebaliknya malah mendorong Anda untuk meraih sukses?” Jika Anda melakukan seperti yang dilakukan Carney, Anda akan menggunakan kegagalan-kegagalan Anda sebagai pengalaman belajar.
”Untuk meraih kemenangan, Anda harus belajar kalah”, kedengarannya seperti nasehat yang aneh, tapi orang yang mengucapkannya itu telah meraup USD 300 juta.
Carney sering memberikan nasehat yang kurang lazim kepada mereka yang baru memulai usaha, kira-kira begini:”Saya pernah menjalani kira-kira limapuluh jenis usaha yang berbeda-beda dan hanya limabelas diantaranya yang tergolong sukses. Itu artinya, rata-rata keberhasilan saya adalah tigapuluh persen”
Inti yang ingin disampaikan oleh Frank adalah:”Anda perlu terus menerus mengayunkan pukulan (baseball) jika ingin berhasil memukul dan bahkan lebih penting lagi adalah melangkah mundur ketempat semula setelah pukulan Anda meleset.
Carney mengatakan bahwa Pizza Hut sukses karena ia selalu belajar dari kekeliruan-kekeliruannya. Misalnya upaya ekspansi di Oklahoma City mengalami kegagalan, namun kemudian membuatnya menyadari betapa pentingnya faktor lokasi dan dekorasi. Ia sungguh-sungguh belajar dari setiap kesalahannya. Ketika penjualannya di New York merosot tajam, muncul gagasan inovatif memasarkan pizza tebal yang agak keras di bagian luarnya dan ternyata sukses luar biasa. Ketika toko-toko pizza lainnya mulai menggerogoti pangsa pasarnya, Frank menanggapinya dengan memperkenalkan menu baru “Pizza ala Chicago” dan sukses pula. Faktanya Carney sering gagal, namun dalam setiap kegagalan ia mampu mengubahnya menjadi keberhasilan.
Kegagalan adalah pengalaman yang pernah kita semua mengalaminya. Pertanyaannya adalah: “Apakah Anda akan membiarkan kegagalan itu menjatuhkan Anda atau sebaliknya malah mendorong Anda untuk meraih sukses?” Jika Anda melakukan seperti yang dilakukan Carney, Anda akan menggunakan kegagalan-kegagalan Anda sebagai pengalaman belajar.
”Untuk meraih kemenangan, Anda harus belajar kalah”, kedengarannya seperti nasehat yang aneh, tapi orang yang mengucapkannya itu telah meraup USD 300 juta.
Rabu, 10 Desember 2008
Langganan:
Postingan (Atom)

